Yang tersisa dari Hardiknas

Sebenarnya tulisan ini rencananya akan saya publish 2 Mei bertepatan dengan hari pendidikan nasional. Tapi berhubung sedang sibuk maka baru sekarang mempunyai kesempatan untuk mempublish. Seperti diketahui bersama bahwa peringatan Hardiknas 2009 bertajuk Pendidikan Sains, Teknologi, dan Seni Menjamin Pembangunan Berkelanjutan dan Meningkatkan Daya saing Bangsa. Tema yang bagus sekali menurut saya, sampai saya nggak mudeng maksudnya. Saya tidak akan membahas tema tersebut karena bahasa langit yang tidak saya pahami.

Saya hanya akan menyoroti tentang keadilan di dunia pendidikan. Sudahkah tercipta keadilan? silahkan sampeyan jawab sendiri. Setahu saya sekolah favorit saat ini hanya untuk orang-orang yang mampu secara finansial. Masak saya nanya-nanya biaya masuk sebuah sd favorit harus membayar sampai belasan juta rupiah. Lha memang saya bisa ngeprint uang hehehe. Sudahlah itu hanya tulisan orang yang nggak punya duit, sampeyan jangan terpengaruh. Di samping rajin beribadah tujuan hidup saya sekarang tidak muluk-muluk hanya menginginkan pendidikan terbaik untuk anak saya.

Kembali tentang hardiknas, saat saya menaiki mobil motor astrea grand tahun 1993 saya yang sudah menemani saya 16 tahun belakangan ini, dikejutkan oleh angkot yang behenti mendadak di depan saya. Memang di jalan tersebut ramai sekali dengan anak yang mencegat angkot. Yang bikin saya nggak habis pikir adalah begitu besar perjuangan anak-anak ini untuk meraih cita-cita. Berbeda dengan anak-anak yang hanya tukang nggame, tukang nggame dan tukang nggame. Baik itu ps atau console-console lainnya.

Ini foto anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk maju, bukan foto rani atau foto rhani atau rani juliani

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

81 thoughts on “Yang tersisa dari Hardiknas”

  1. jalanya masih panjang ya mas yang pada di angkot itusemanagatya itu lhotapi bisakanh hanya dengan semangat ya menghadapi hidup ini?

  2. Demi cita2 nggandulpun dilakoni. Malah masih banyak yang harus menyeberangi sungai kalo mo ke sekolah. Mudah2an kedepan pendidikan makin menjadi prioritas pemerintah ya Kang.

  3. yang terjadi di negeri kita saat ini memang demikian mas, semoga iklan sekolah gratis bukan hanya iklan menjelang pilpres tapi benar2 diwujudkan oleh pemerintahan terpilih mendatang

  4. Yang menjengkelkan kalau yang naik motor itu lho mas endar… Sekolah mangkat, Bajunya dikeluarkan…. Nggak Pakai Helm…. ngebut nggak karuan…jen igit-igiten polll .

  5. Rasah sekolah, buang2 duit tok, siki sing penting ngerti duit wis cukup, bisa golet duit akeh, tuku ijazah trus daftar dadi caleg. wakakakaka. nek tembus kan dijamin uripe bahagai dunia akherat..

  6. itu kan cuma slogan, tema, dan tetek bengeknya biar dibilang becus bekerja dan memperhatikan pendidikan di tanah air, padahal kenyataannya gak seindah pidato yang disampaikan, terlalu banyak sekolah yang rongsok dan tak terurus, bahkan toiletpun sebau dan sehancur kandang sapi, tapi apa boleh buat we are living in indonesi dimana orang2 bermental koruptor lebih banyak

  7. Dulu waktu aku SMP, harus jalan kaki 3km untuk pergi ke sekolah… Ngono wae ora sukses kok, hopomaneh sing nggame, nggame, nggame.. hhhh…

  8. @marsudiyantosaya salut sekali dengan perjuangannya pak@suwungsemangatnya memang membara mas biar nggak gaptek@Senomudah-mudahan kang@senoajibetul kang demi cita-cita yang luhur@Wong Jalurho.oh nggak adil@achmad sholehsemoga mas@Jahid KLW wah kalau yang ngebut itu sifatnya bertolak belakang dengan yang nggandul ini pak@Baworsetujuh kang bawor@faizziya mas slogan yang membuat saya bingung @Senowekekekekek@Afrianti Takaful betul mbak@suryadensampeyan juga betul mas@Anangkumakasih sudah stuju@Andy MSE salut kang.. aku smp numpak pit onthel 7 km@IKHSAN sama mas@Pencerah semoga mas@itempoetikalimat tinggal kalimat kang@masnoer hooh@dentingjiwa saya tidak bisa masuk blog sampeyan@gdenarayanaiya kang jangan terlalu banyak nggame@rozy lokasinya di daerah saya mas@joehehehehe sudah saya hapus@ciwir mbayar yo..@annosmile keyoword opo tho mas?@antownitu mbayar mas@LuxsMan Kumarapodo karo aku heheh

  9. Inilah contoh laskar pelangi modern (semoga…)Kenapa ya sekolah jadi mahal?Apa karena gaji guru kurang..kan katanya dah ada BOS..Piye kiye Indonesia…Kayaknya pengin kembali ke masa kecil..Semua biaya pendidikan murah..walaupun tidak ada yang namanya BOS..tapi bukunya kan dapet dari warisan kakak kelas..hehehe..Tapi sekarang? Bukunya tiap bulan ganti dan materinya pun kayaknya gak berubah..paling yang berubah tuh penerbitnya…Piye kiye Indonesia…

  10. (doh) kader bangsa calon penerus…. nasibmu kini nak… suk dadio wong kang migunani tumrap bangsa lan negara uga awakmu dewek lan kluarga.. aja dadi kernet ya lup….

  11. saat melihat semangat anak2, saya optimis terhadap nasib masa depan negeri ini, mas endar. namun, ketika melihat realitas yang terjadi dg makin banykanya anak2 cerdas yang tersingkir dari bangku pendidikan, sikap optimis saya berubah jadi pesimis. semoga para pengambil kebijakan memperhatikan hal ini.

  12. kenapa di ujung2 artikel menuliskan nama rani ? biar banyak yang nyasar kesini ya hihihihi…salut utk anak-anak sekolah yang tetap berjuang dalam kondisi apapun :)

  13. saya mlh aneh aja dg sistem penerimaan siswa sltp/slta dg sistem “Bina Lingkungan” (di jawa ada gk ya). Calon siswa/i yg tinggal di area sekolah, bisa dg mudah nya masuk sekolah tersebut walau nilai pas2an. Tp calon siswa/i yang jauh dari lingkungan skolah, harus susah payah cari skolah negeri padahal nilai nya bagus.

  14. biaya pendidikan emang bikin benjut pak, apalagi skr fakultas kedokteran udah diizinkan untuk mencari dana sendiri dari sumbangan orang tua. huff.. untunglah saya angkatan lawas, dad ra nemen2..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image