Category Archives: Teknik mesin

Cars Aerodynamics

Aerodynamics is the study of moving air over a body in motion. Airflow will affect the body’s movement through the flow. Car aerodynamics is used to make safer and more fuel efficient. It is primarily used in race car design where high speeds is needed.

The car designers have considering in aerodynamics theory to get a good car. The expensive cars must be having a good aerodynamic design. The main concern to improve aerodynamics efficiency is reducing the coefficient of drag.

In recent days we must concern about expensive fuel and inefficient vehicles.
Most of the information about car aerodynamics seems to be centered around generating downforce. This may be needed for race cars, the average 3000+ pound car driving at speeds below 90 MPH it does not need to be concerned with downforce. If you are trying to improve the efficiency of your vehicles, reducing the coefficient of drag (Cd) should be the main concern.
For normal condition estimation drive use about 15% of the total energy to be required to push down the street, tire friction about 25%, and air drag is about 60%.

TO BE CONTINUED……..

REFERENCES :
http://www.wisegeek.com/what-are-car-aerodynamics.htm
http://www.recumbents.com/car_aerodynamics/

How Vane Pumps work?

How it Works


Components
Vane pump terdiri dari unsur inti bergerak, rotor [6] dengan sliding blades[4], yang berputar secara eksentris pada poros statis dalam silinder [3]. Karena kekuatan sentrifugal yang disebabkan oleh rotasi, sehingga blades dapat bergeser dan memperpanjang melalui alur secara longitudinal [5]. Pada saat blade memanjang berfungsi seperti vanes yang sesuai dengan bentuk silinder karena digerakkan oleh rotor.

Compression Cycle
Udara incoming[1] akan memasuki kompresor ketika piston [2] menghasilkan tekanan udara di sirkuit. Udara akan didorong memasuki silinder oleh rotating vanes, dimana sekelilingnya merupakan space yang kedap udara samapi menuju ke area kompresi. Udara akan dikompresi. Komprei tersebut didapatkan dar volume yang semakin mengecil karena dinding silinder dan rotor adalah eksentris. Setelah kompresi maksimum[7], udara keluar melalui outlet [8]. Setelah maksimum kompresi [7], udara keluar melalui outlet [8]. Semburan pendingin [9] mengurangi suhu dari kompresi siklus dan memastikan pelumasan. Menyuntikkan coolant yang juga berfungsi sebagai sealant untuk menjaga vanes kedap udara.

Sumber http://www.pneumofore.com/technology/innovation/rotary-vane

Pompa (part 1) (open vs closed impeller)

The open impeller design

Cairan memasuki bagian tengah impeller, dan didorong oleh sudu ke saluran buangan. Celah antara impeller dan casing bagian belakang disetel seminimum mungkin agar tidak ada cairan yang kembali ke bagian hisapan.


The closed impeller design


Cairan memasuki bagian tengah impeller, dan didorong oleh sudu ke saluran buangan. Celah antara impeller dan casing bagian belakang tidak perlu disetel. Menggunakan ring penahan untuk menghindari cairan kembali ke sisi sedotan. Jika ring mulai rusak perlu diganti.

Sekarang kita mengetahui perbedaannya, untuk selanjutnya tergantung dari pemilihan kita harus menyetel celah atau menyediakan ring.

Keuntungan dan kerugian

CLOSED IMPELLER OPEN IMPELLER
Dapat menahan kenaikan panas pada shaft akibat gaya axial, tapi jika gaya axial terlalu besar akan mengurangi flow cairan. Celah antara impeller dan volute harus disetel, akan timbul pemanasan axial.
Bagus digunakan untuk memompa cairan yang mudah terbakar karena impeller tidak menimbulkan panas Sebaiknya untuk cairan yang tidak mudah terbakar
Effisiensi awalnya sangat tinggi dan akan berkurang seiring dengan ausnya wear ring. Efficiensi dapat disetel dengan mengatur celah.
Impeller dapat terhambat oleh material asing dan susah untuk dibersihkan. Open impeller dapat dngan mudah dibersihkan dari material asing.
Susah diperiksa karena ada bagian yang tersembunyi. Semua bagian terlihat
Lebih mahal Lebih murah
Sulit dimodifikasi Mudah dibubut.
Kecepatan berputar lebih spesifik Pilihan lebih banyak

Udah dulu ah……. ngantuk berat, besuk dilanjutin lagi.
Lho tabelnya kok melorot gini ya. Tolong bantuin dong

Sumber : http://www.mcnallyinstitute.com/14-html/14-02.htm

Perpindahan Panas

Perpindahan panas didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari satu tempat ke tempat lainnya yang disebabkan perbedaan temperatur antara tempat-tempat tersebut. Bila dalam suatu sistem terdapat gradien temperatur atau bila dua sistem yang temperaturnya berbeda disinggungkan maka akan terjadi perpindahan energi yang disebut panas (heat). Energi ini tidak dapat diukur atau diamati secara langsung tetapi arah perpindahan dan pengaruhnya dapat diamati dan diukur.

Pada umumnya terdapat tiga proses perpindahan panas yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
Ilmu perpindahan panas tidak hanya membahas bagaimana energi itu berpindah dari suatu bagian ke bagian lainnya tetapi juga meramalkan laju perpindahan energi pada suatu kondisi-kondisi tertentu. Ilmu perpindahan panas berbeda dari ilmu termodinamika. Dalam perpindahan panas membahas masalah laju perpindahan panas sedangkan pada termodinamika membahas sistem dalam keseimbangan. Termodinamika dapat digunakan untuk meramalkan energi yang diperlukan untuk mengubah sistem dari keadaan setimbang satu ke keadaan setimbang lainnya, tetapi tidak dapat meramalkan kecepatan perpindahan panas tersebut. Keadaan ini disebabkan pada waktu perpindahan panas itu berlangsung, sistem tidak berada dalam keadaan setimbang.

posting pertama : THERMAL FLUID HEATER

ABSTRACT

Water and steam are typically used as heat carriers in heating systems. But at high temperatures, water and steam requires a corresponding high operating pressure. In industrial heating systems, a high temperature level is often a great advantage and establishing this with water and steam can be very controversial and expensive.
In thermal oil heaters a special oil are used instead as the heat carrier, operating at atmospheric pressure up to 300°C. Comparing to water and steam, it would require a pressure of 85 bar to obtain this temperature. There are several advantages by using thermal oil compare to e.g. steam systems.

Thermal oil heaters are a real good and innovative solution for heat production in those industrial processes where high process temperatures are required. There are circumstances in which the use of a thermal fluid heater rather than a steam boiler is more suitable for heat production, usually to lower costs.
Applying basic radiation concepts to process-type heater design, Lobo & Evans developed a generally applicable rating method, that is followed with various modifications, by many heater designers. Reference Lobo & Evans, Heat Transfer in the Radiant Section of Petroleum Heaters, AICHE, Vol. 35, 1939.
Coil is commonly used where the duties are small. Selecting the heater tube material and size to use in a heater design is really a matter of experience. As designers work with different fired heaters for different services, designers develop a knowledge of what fit before in a similar design, so designer know where to start with a new design. But a few general rules can be used to start the selection.
In a thermal fluid heater, a gas or oil fired burner is mounted at one end of the heater and projects into the inner chamber. The hot gases radiate heat, which is absorbed by thermal fluid circulating through the coils. The hot fluid then circulates to one or several users before returning to the thermal fluid heater for reheating.
Process heat load requirement must be determined and remember to add at least 15 percent as a safety factor to make certain heater is not undersized.
Designers must choose the correct thermal fluid for specific operating conditions. The thermal fluid should be checked regularly to verify that it has retained its heat transfer properties.
A properly designed and installed thermal fluid heating system should give between 20 to 30 years of reliable service, but periodic maintenance is still necessary for safe and effective operation.

Keywords: Design; Oil heater; Coil; Temperature; Heat transfer

REFERENCES
Anonim. 2006. Industrial Diesel Oil. http://pertamina.com/. Indonesia.
Anonim. 2006. Thermal Fluid Heater Design. http://www.heaterdesign.com/. USA.
Anonim. 2006. Wikipedia, the free encyclopedia. http://en.wikipedia.org/. UK.
Djokosetyardjo, M.J. 2006. Ketel Uap. Jakarta: Pradnya Paramita.
Holman, J.P., terjemahan E. Jasjfi. 1995. Perpindahan Kalor. Jakarta: Erlangga.
Kern, D.Q. 1983. Process Heat Transfer. Japan: McGraw-Hill Book Company.
Kreith, Frank., terjemahan Arko Prijono. 1991. Prinsip-Prinsip Perpindahan Panas, Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.
Leinhard, John. 2006. A Heat Transfer Text Book. Cambridge: Phlogiston Press.
Perry, R.H. 1976. Perry’s Chemical Engineer’s Handbook. USA: McGraw-Hill Book Company.
Satiadiwiria, M.Y. 1975. Termodinamika. Jakarta: Bina Aksara.
Zemansky, M.W., dan R.H. Dittman. 1982. Kalor dan Termodinamika. Bandung: Penerbit ITB.